SAYANG BUNDA
Hujan kemarin malam meninggalkan banyak tetesan embun yang terasa sejuk di pagi hari. Tetesan air yang menempel di dedaunan pohon pun ikut berjatuhan ketika angin datang menerpanya. Udara di pagi ini benar - benar dingin. Seorang gadis cantik yang sedang menjemur pakaian pun merasakannya. Pakaian basah yang dia pegang menambahkan kesan dingin ditangannya. Ia adalah Olivia Azzahra, seorang anak yatim yang hanya tinggal bersama Ibundanya.
Dulu ketika Ayahnya masih hidup, Olivia adalah anak yang sangat manja dan malas. Apapun yang diperintahkan orang tuanya, dia akan selalu bilang 'Entar' 'Iya nanti' dan tanpa mengerjakannya. Sampai akhirnya Bundanya-lah yang turun tangan. Selalu seperti itu. Ya Olivia memang manja dan malas, tapi itu tidak membuat Ayah dan Bundanya mengurangi rasa sayangnya. Mereka sangat mencintai dan menyayanginya setulus hati.
Dua bulan yang lalu Ayahnya meninggal dunia karena peristiwa pesawat jatuh di daerah Sumatera. Hal itulah yang membuat Olivia terpuruk dan menjadi pendiam. Tapi saat suatu malam ia terbangun, ia mendengar suara tangisan seseorang. Suara itu terdengar dari arah kamar Bundanya. Dibukalah pintu itu pelan-pelan, dari celah pintu ia melihat Bundanya yang sedang menengadahkan kedua tangannya didepan dada. Ia mendengar apa yang Bundanya ucapkan. Namanya disebut. Tanpa sadar air mata mengalir dipipinya.
Sejak saat itu, Olivia mulai sadar. Dia harus berubah menjadi lebih baik, dia harus semangat, dia tidak boleh terlalu merasa terpukul akan hal itu, masih ada Bundanya yang harus dia jaga dan mulai untuk membahagiakannya. Olivia yakin, Allah akan selalu ada disampingnya untuk selalu kuat dalam menjalankan kehidupan ini.
Setelah menjemur pakaian, Olivia bersiap - siap untuk pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari Senin. Minggu ini kelasnya yang mendapat bagian menjadi petugas upacara, karena itu ia harus berangkat pagi - pagi. Setelah semuanya siap, tasnya ia tenggerkan di kedua pundaknya, lalu ia turun ke bawah untuk sarapan pagi.
Suara antara perpaduan sepatu dan lantai terdengar oleh Bunda Olivia. Ia berbalik dan melihat anaknya yang tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis.
"Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Bunda Olivia
Olivia duduk di kursihnya. "Em... Roti aja, Bun. Takut telat soalnya." Ucapnya sambil melihat kearah jam tangannya.
Bunda Olivia mengambil dua tumpuk roti tawar dan mengoleskan mentega diatasnya, sementara Olivia meminum susu cokelat yang sudah dibuat Bundanya. Setelah sarapan ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Bundanya yang sedang membersihkan meja makan.
"Bun, Oliv berangkat ya. Bunda jangan terlalu capek kerjanya" kata Olivia seraya mencium tangan kanan Bundanya.
"Iya nak, kamu juga yang pinter di sekolahnya," Bundanya mengusap kepalanya dengan lembut.
Olivia tersenyum, "Itu sih harus, Bun. Yaudah, Oliv berangkat ya. Assalamu'alaikum Bunda."
"Wa'alaikumsalam,"
Ketika Upacara berlangsung semua murid - murid terkesan diam. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena Bu Zahra yang menjadi Pembina Upacaranya. Bu Zahra adalah wali kelas Olivia. Beliau dikenal sebagai guru yang sangat baik, petuah - petuah yang di ucapkan selalu membuat hati si pendengar sejuk dan tersentuh. Dan sekarang Bu Zahra sedang memberi amanat kepada semua murid. Beliau menjelaskan tentang Berbakti Kepada Orang Tua. Amanat dari Bu Zahra masih berlangsung. Dan semua orang masih mendengarkannya dengan seksama, termasuk Olivia. Air mata Olivia terjatuh membasahi pipinya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Jam 3 sore Olivia sampai di rumah. Pintu terkunci, berarti Bundanya belum pulang. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Setelah mandi dan ganti baju, Olivia menonton televisi sambil menunggu Bundanya Pulang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Bundaaa." Olivia berlari kearah Bundanya dan langsung memeluk erat. Olivia menangis.
"Ehh nak, kamu kenapa? kok nangis sih?"
"Hiks.. Bunda.. Maafin Oliv ya. Hiks.. Dulu Oliv selalu gak nurutin hiks.. perintah Bunda sama Ayah. Oliv nyesel karna pernah kayak gitu ke kalian. Ayah udah pergi sebelum Oliv minta maaf. Hikss.... Oliv gak mau nyesel untuk kedua kalinya. Hiksss. Maafin Oliv ya Bunda." Kata Olivia dengan suara sesegukan.
Bunda Olivia mengeluarkan air mata sambil mengusap kepala dan punggung anaknya. "Iya, Bunda maafin Oliv. Tapi Oliv janji, Oliv harus jadi anak yang baik. Oke!"
Olivia melepaskan pelukannya. "Iya Bunda, Oliv janji. Oliv akan terus nurutin perintah Bunda. Oliv akan mengerjakan apa yang Bunda suruh. Oliv juga gak akan manja dan malas - malasan lagi. Oliv akan jadi anak yang sholehah. Oliv akan membuat Bunda bahagia terus. Pokoknya Oliv sayang Bunda selamanyaaaa."
Mereka berpelukan erat dan menyalurkan kasih sayang mereka.
Komentar
Posting Komentar