Semilir angin perlahan membelai
Secarik memori perlahan bermuka
Saat kupandang kursi berjejer rapih
Saat itu pula kuteringat masa berwarna
Dipenghujung putih abu kuterduduk
Melihat apa yang tertera pada benda kotak putih
Berbalut pahat tinta hitam
Terukir rapi oleh sang lentera kalbu
Dipenghujung putih abu kutermenung
Mengingat apa yang terekam lensanku
Berputar bayang menari-nari
Terbesit indahnya para kawan tawa
Dipenghujung putih abu kuterpaku
Mengenang hela demi hela peristiwa
Kadang tawa menggema
Kadang tangis menggaung
Semua tertuang indah dalam cawan masa
Aku tidak merasa
Secepat inikah waktu yang bergulir?
Hingga kutopangkan kaki ini
Diantara keramaian ilmu hilir mudik melintas
Tiada kudaya!
Akupun tiada berdaya
Haruskah aku mengiba?
Derasnya masa kejam menyeretku ke Muara
Hingga kuharus kuatkan jiwa ini
Tuk mulai merangkak keluar dengan penuh asa
Hari ini...
Dengan kalung kebanggaan melingkar dileherku
Aku saksikan butir mutiara mulai terpelanting dari ikat benangnya
Aku rasakan separuh penopangku mulai terkikis deburan waktu
Hari ini aku bebas
Terlepas dari seluk beluk peraturan
Hari ini aku duduk bersama orang yang sama seperti hari itu
Pakaian kami tak seragam lagi
Jas hitam yang melekat
Kebaya warna-warni indah dan selaras dipandang
Hari ini hari yang selalu kutunggu
Hari dimana simbol-simbol perpisahan menyapa senyumku
Bercengkrama dengan kawan yang sama
Mengambil potret dengan berbagai gaya
Namun... akankah tawa terukir kembali?
Akankah kawan sama bersemi?
Akankah rindu tak menderu nanti?
Dalam belenggu hati bercabang dua
Merasa bangga dan juga lara
Aku berbangga
Cintanya telah memapahku pada sepercik cahaya
Cinta siapa?
Cinta sang lentera kalbu
Cinta sang malaikat berilmu
Cinta guruku
Oh Guruku...
Sungguh.. tulusmu telah menembus atmosfer
Hingga semesta gemetar mengingat jasamu
Sungguh.. kasihmu telah menjalar akar
Hingga langkah tiada luput dari restumu
Aku lara
Sempatku sempit
Mengapa?
Syukur tak terucap
Maaf tak tertutur
Kepada sang lentera kalbu
Insan pencair pikir nan beku
Oh Guruku...
Tiada sempat kupahat senyum bangga di wajahmu
Dan kini ku harus bergeser dari naunganmu
Tiada sempat kususun tangis haru di riak matamu
Dan kini kuharus enyah dari didikanmu
Sungguh...
Tiada satu budi balasan yang dapat kusuguhkan
Tiada hadiah termewah yang dapat kuberikan
Hanya ini...
Hanya doa yang mampu kuselipkan
Oh Tuhanku...
Engkau Maha Berkuasa
Kau dan aku bagai Pena dan setitik tinta
Aku setitik tinta dalam pena-Mu
Oh Tuhanku...
Kutitipkan tulisan skenario indah untuk Guruku
Kutitipkan tulisan kebahagiaan untuk Ibuku
Kutitipkan tulisan kekuatan untuk Ayahku
Kutitipkan tulisan peneguh asa untuk kawanku
Agar kan sentosa hidup ini
Hingga nanti
Saat sang surya tak menyapa pagi kembali
Karya : Tri Widia
📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝
Yeay!!
Baguskan puisi karya temen gue itu? 😆
Fyi, puisi ini dibuat untuk tampil di acara perpisahan kami waktu 29 April kemarin 🎓 , ada gue, Widi, Qoyin, Pungky, Monika dan Ika. Sebenernya ini gak cuma ada puisinya doang kok, tapi ada akting²nya gitu juga. Pokoknya puisi, musik, dan drama itu jadi satu.
Okeh, sekian dan terimakasih!
Komentar
Posting Komentar